Sabtu, 14 Mei 2016




Realita Mahasiswa Saat Ini

Berbicara mengenai mahasiswa saat ini menurut pandangan banyak orang tidak lebih dari sekedar gengsi, atau istilah nya “gak kuliah, gak gaul”. Memang tidak bisa dipungkiri, saat ini kuliah hanya untuk sekedar gengsi tanpa memahami makna kuliah atau arti dari mahasiswa sesungguhnya. Mahasiswa saat ini cenderung malas berpikir, lebih suka hal­hal yang instan seperti mencontek dari pada berusaha untuk belajar. Lebih suka hura­hura dan berperilaku hidup konsumtif, dan yang lebih parah memakai narkoba dan memiliki pola hidup bebas. Banyak berita kriminal yang tersangkanya adalah mahasiswa, dan beberapa kejahatan lain yang dilakukan oleh mahasiswa. Memang ini adalah sebuah ironi dan realita yang dihadapi oleh mahasiswa Indonesia saat ini. Kemudian mahasiswa saat ini lebih cenderung bersikap apatis, terkesan tidak mau tahu atau yang lebih parahnya tidak ingin tahu. Kalau seandainya ditanya tentang tri dharma perguruan tinggi mungkin tidak banyak yang mengetahui apalagi memahami makna dari tri dharma perguruan tinggi. Pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat hanyalah sekedar simbolisasi tanpa sebuah pengamalan. Atau hal yang paling umum saja, siapa yang bisa menyebutkan visi dan misi kampusnya ?,

Itu seharusnya adalah hal yang paling umum kita ketahui. Kampus tempat sehari­hari kita menuntut ilmu tapi visi dan misi dari kampus kita sendiri tidak tahu, bagaimana bisa membangun Indonesia yang sarat permasalahan dan telah menjadi sebuah bola salju yang besar tanpa memiliki rasa kepedulian terutama kepedulian kepada lingkungan sekitar. Kebanyakan mahasiswa saat ini tidak lebih dari siswa SMA tanpa baju seragam atau lebih tepatnya siswa SMA kelas 4. Mungkin ini adalah sebuah hal lucu atau istilah aneh, namun inilah kenyataannya. Mahasiswa adalah kaum intelektual yang seharusnya memiliki kecerdasan berpikir juga lebih dewasa dalam menyikapi sebuah masalah. Berpikir secara positif tapi kritis. Namun kenyataannya malah sebaliknya, menyelesaikan masalah dengan kekerasan dan emosi. Tidak jarang kita melihat tawuran antar mahasiswa, aksi kekerasan yang melibatkan senior dan junior, bahkan sampai merusak kampus. Bisa dikatakan mahasiswa saat ini sedang dilanda krisis, kehilangan jati diri dan krisis kepedulian. Hanya sedikit mahasiswa yang mau terjun langsung ke masyarakat, mahasiswa hanya sibuk dengan dunia nya sendiri. Kaum individualis hanya fokus untuk belajar, agar mendapatkan IPK 4,0 atau berpredikat cumlaude ketika lulus nanti. Mereka menganggap berorganisasi dan bersosialisasi tidak ada gunanya hanya membuang­buang waktu. Memang mereka profesional, tujuan kuliah adalah untuk belajar dan menuntut ilmu. Tapi dengan permasalahan yang sedang dihadapi di masyarakat, saat naif kalau mereka masih saja mementingkan kepentingan pribadi dan mengabaikan penderitaan yang dialami masyarakat diluar sana. Kemudian kaum hedonis, hanya mementingkan hura­hura dan gaya hidup yang high class seakan dunia hanya untuk hari ini. Seandainya uang yang didapat berasal dari penghasilan sendiri tidak masalah bahkan bagus, walaupun masih kuliah sudah bisa bekerja dan membiayai hidupnya sendiri tetapi tentunya harus dengan cara yang halal. Akan tetapi kebanyakan mahasiswa saat ini masih mengemis kepada orang tua, masih minta uang kepada orang tua. Apakah hal ini bisa dijadikan kebanggaan, bisa beli ini beli itu tapi pakai uang bapaknya. Padahal mahasiswa di didik untuk menjadi pribadi yang kontributif , dan memiliki sikap yang produktif tidak lagi konsumtif. Dan ada juga mahasiswa yang seakan tidak mementingkan kuliahnya, hanya sibuk kumpul­kumpul dan melakukan hal yang kurang jelas dan tidak bermanfaat. Waktunya hanya terbuang percuma dan lebih parah nya sampai banyak yang Drop Out atau kena DO. Lalu organisasi­organisasi kampus saat ini tidak lagi menjadi episentrum pergerakan mahasiswa, yang mewadahi dan mengayomi mahasiswa. Para aktivis yang katanya para pejuang nasib mahasiswa dan nasib masyarakat Indonesia hanya sibuk aksi sana­sini tanpa hasil dan tujuan yang jelas. Tugas kuliah diabaikan dengan alasan sibuk rapat, sibuk konsolidasi atau hal­hal yang lain. Padahal menjadi aktivis bukanlah kewajiban tetapi sebuah pilihan. Ketika sudah berniat menjadi aktivis maka bersikaplah professional. Bukankah mahasiswa yang hebat itu adalah orang yang hebat dalam organisasi dan berprestasi di akademik. Kemudian aksi­aksi mahasiswa saat ini kebanyakan hanya didasari ingin ikut­ikutan tanpa pemahaman dan tujuan yang jelas. Dan terkesan setiap kali ada aksi turun jalan maka akan berakhir rusuh. Nah, inilah yang seharusnya dipahami oleh para aktivis kampus. Aksi bukan hanya turun ke jalan atau berdemo di depan gedung pemerintahan. Melakukan kampanye cinta lingkungan dengan melakukan penanaman pohon itu juga aksi, atau turun ke desa sekitar lingkar kampus untuk melakukan kerja bakti dengan masyarakat yang ada disana itu juga termasuk aksi. Yang seperti ini lebih bermanfaat dan bersifat nyata, juga termasuk dalam tri dharma perguruan tinggi yaitu pengabdian kepada masyarakat. Karena yang dibutuhkan saat ini adalah karya nyata bukan hanya teori atau konseptual belaka. Memang aksi turun ke jalan juga dibutuhkan ketika pemerintah mengeluarkan kebijakan yang tidak pro rakyat atau tidak sesuai dengan keadaan yang ada, namun aksi turun ke jalan adalah pilihan yang terakhir. Ketika langkah­langkah yang telah kita tempuh tidak berhasil. Langkah yang pertama tentu kita harus melakukan kajian terhadap suatu kebijakan, apakah ini bermanfaat atau tidak. Kalau bisa berdialog langsung dengan pejabat pemerintahan kenapa tidak, anggota DPR, menteri atau presiden sekalipun. Mahasiswa punya kekuatan untuk melakukan hal itu, selagi jaket almamater masih melekat di badan kita harus mempunyai keberanian untuk melakukannya. Kemudian langkah selanjutnya membuat kritikan langsung di media­media cetak dan elektronik, agar setidaknya para pejabat kita mendengarkan apa yang sesungguhnya diinginkan masyarakat. Atau setidaknya membuka hati nurani dari pejabat­ pejabat elit Republik ini, memang rakyat banyak yang kecewa dengan janji­janji dan kinerja dari pemerintah. Tetapi setidaknya pemimpin­pemimpin itu masih manusia, setiap manusia pasti memiliki hati nurani. Tergantung nanti pintu hatinya oleh Tuhan akan dibukakan atau tetap beku. Dan seandainya cara ini tidak berhasil juga barulah langkah terakhir kita tempuh, melakukan aksi turun ke jalan. “Katakan hitam adalah hitam, katakan putih adalah putih”.