Realita Mahasiswa Saat
Ini
Berbicara mengenai
mahasiswa saat ini menurut pandangan banyak orang tidak lebih dari sekedar
gengsi, atau istilah nya “gak kuliah, gak gaul”. Memang tidak bisa dipungkiri,
saat ini kuliah hanya untuk sekedar gengsi tanpa memahami makna kuliah atau arti
dari mahasiswa sesungguhnya. Mahasiswa saat ini cenderung malas berpikir, lebih
suka halhal yang instan seperti mencontek dari pada berusaha untuk belajar.
Lebih suka hurahura dan berperilaku hidup konsumtif, dan yang lebih parah memakai
narkoba dan memiliki pola hidup bebas. Banyak berita kriminal yang tersangkanya
adalah mahasiswa, dan beberapa kejahatan lain yang dilakukan oleh mahasiswa.
Memang ini adalah sebuah ironi dan realita yang dihadapi oleh mahasiswa
Indonesia saat ini. Kemudian mahasiswa saat ini lebih cenderung bersikap
apatis, terkesan tidak mau tahu atau yang lebih parahnya tidak ingin tahu.
Kalau seandainya ditanya tentang tri dharma perguruan tinggi mungkin tidak
banyak yang mengetahui apalagi memahami makna dari tri dharma perguruan tinggi.
Pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat hanyalah sekedar simbolisasi
tanpa sebuah pengamalan. Atau hal yang paling umum saja, siapa yang bisa
menyebutkan visi dan misi kampusnya ?,
Itu seharusnya adalah
hal yang paling umum kita ketahui. Kampus tempat seharihari kita menuntut ilmu
tapi visi dan misi dari kampus kita sendiri tidak tahu, bagaimana bisa
membangun Indonesia yang sarat permasalahan dan telah menjadi sebuah bola salju
yang besar tanpa memiliki rasa kepedulian terutama kepedulian kepada lingkungan
sekitar. Kebanyakan mahasiswa saat ini tidak lebih dari siswa SMA tanpa baju
seragam atau lebih tepatnya siswa SMA kelas 4. Mungkin ini adalah sebuah hal
lucu atau istilah aneh, namun inilah kenyataannya. Mahasiswa adalah kaum intelektual
yang seharusnya memiliki kecerdasan berpikir juga lebih dewasa dalam menyikapi
sebuah masalah. Berpikir secara positif tapi kritis. Namun kenyataannya malah
sebaliknya, menyelesaikan masalah dengan kekerasan dan emosi. Tidak jarang kita
melihat tawuran antar mahasiswa, aksi kekerasan yang melibatkan senior dan
junior, bahkan sampai merusak kampus. Bisa dikatakan mahasiswa saat ini sedang
dilanda krisis, kehilangan jati diri dan krisis kepedulian. Hanya sedikit
mahasiswa yang mau terjun langsung ke masyarakat, mahasiswa hanya sibuk dengan
dunia nya sendiri. Kaum individualis hanya fokus untuk belajar, agar
mendapatkan IPK 4,0 atau berpredikat cumlaude ketika lulus nanti. Mereka
menganggap berorganisasi dan bersosialisasi tidak ada gunanya hanya
membuangbuang waktu. Memang mereka profesional, tujuan kuliah adalah untuk belajar
dan menuntut ilmu. Tapi dengan permasalahan yang sedang dihadapi di masyarakat,
saat naif kalau mereka masih saja mementingkan kepentingan pribadi dan mengabaikan
penderitaan yang dialami masyarakat diluar sana. Kemudian kaum hedonis, hanya
mementingkan hurahura dan gaya hidup yang high class seakan dunia hanya untuk
hari ini. Seandainya uang yang didapat berasal dari penghasilan sendiri tidak
masalah bahkan bagus, walaupun masih kuliah sudah bisa bekerja dan membiayai
hidupnya sendiri tetapi tentunya harus dengan cara yang halal. Akan tetapi kebanyakan
mahasiswa saat ini masih mengemis kepada orang tua, masih minta uang kepada
orang tua. Apakah hal ini bisa dijadikan kebanggaan, bisa beli ini beli itu
tapi pakai uang bapaknya. Padahal mahasiswa di didik untuk menjadi pribadi yang
kontributif , dan memiliki sikap yang produktif tidak lagi konsumtif. Dan ada
juga mahasiswa yang seakan tidak mementingkan kuliahnya, hanya sibuk
kumpulkumpul dan melakukan hal yang kurang jelas dan tidak bermanfaat.
Waktunya hanya terbuang percuma dan lebih parah nya sampai banyak yang Drop Out
atau kena DO. Lalu organisasiorganisasi kampus saat ini tidak lagi menjadi
episentrum pergerakan mahasiswa, yang mewadahi dan mengayomi mahasiswa. Para
aktivis yang katanya para pejuang nasib mahasiswa dan nasib masyarakat
Indonesia hanya sibuk aksi sanasini tanpa hasil dan tujuan yang jelas. Tugas
kuliah diabaikan dengan alasan sibuk rapat, sibuk konsolidasi atau halhal yang
lain. Padahal menjadi aktivis bukanlah kewajiban tetapi sebuah pilihan. Ketika
sudah berniat menjadi aktivis maka bersikaplah professional. Bukankah mahasiswa
yang hebat itu adalah orang yang hebat dalam organisasi dan berprestasi di
akademik. Kemudian aksiaksi mahasiswa saat ini kebanyakan hanya didasari ingin
ikutikutan tanpa pemahaman dan tujuan yang jelas. Dan terkesan setiap kali ada
aksi turun jalan maka akan berakhir rusuh. Nah, inilah yang seharusnya dipahami
oleh para aktivis kampus. Aksi bukan hanya turun ke jalan atau berdemo di depan
gedung pemerintahan. Melakukan kampanye cinta lingkungan dengan melakukan
penanaman pohon itu juga aksi, atau turun ke desa sekitar lingkar kampus untuk
melakukan kerja bakti dengan masyarakat yang ada disana itu juga termasuk aksi.
Yang seperti ini lebih bermanfaat dan bersifat nyata, juga termasuk dalam tri
dharma perguruan tinggi yaitu pengabdian kepada masyarakat. Karena yang
dibutuhkan saat ini adalah karya nyata bukan hanya teori atau konseptual belaka.
Memang aksi turun ke jalan juga dibutuhkan ketika pemerintah mengeluarkan
kebijakan yang tidak pro rakyat atau tidak sesuai dengan keadaan yang ada,
namun aksi turun ke jalan adalah pilihan yang terakhir. Ketika langkahlangkah
yang telah kita tempuh tidak berhasil. Langkah yang pertama tentu kita harus
melakukan kajian terhadap suatu kebijakan, apakah ini bermanfaat atau tidak.
Kalau bisa berdialog langsung dengan pejabat pemerintahan kenapa tidak, anggota
DPR, menteri atau presiden sekalipun. Mahasiswa punya kekuatan untuk melakukan
hal itu, selagi jaket almamater masih melekat di badan kita harus mempunyai
keberanian untuk melakukannya. Kemudian langkah selanjutnya membuat kritikan
langsung di mediamedia cetak dan elektronik, agar setidaknya para pejabat kita
mendengarkan apa yang sesungguhnya diinginkan masyarakat. Atau setidaknya membuka
hati nurani dari pejabat pejabat elit Republik ini, memang rakyat banyak yang
kecewa dengan janjijanji dan kinerja dari pemerintah. Tetapi setidaknya
pemimpinpemimpin itu masih manusia, setiap manusia pasti memiliki hati nurani.
Tergantung nanti pintu hatinya oleh Tuhan akan dibukakan atau tetap beku. Dan
seandainya cara ini tidak berhasil juga barulah langkah terakhir kita tempuh,
melakukan aksi turun ke jalan. “Katakan hitam adalah hitam, katakan putih
adalah putih”.
